Sunday, May 2, 2010

Singgah di Sodom dan Gomora

Kali kedua saya menjejakkan kaki di negara Thailand, agenda saya selain mengunjungi ibu kota negara juga memuaskan rasa penasaran saya tentang keindahan pantai Pattaya yang begitu sering digembar-gemborkan, dan tambahan tujuan lain yang belum saya rencanakan, kita lihat saja kemana arah angin membawa saya terbang.








Setelah menikmati sebagian sisi Bangkok, ternyata angin membawa saya ke Ayutthaya, kota kerajaan Thailand sebelum Bangkok. Sebenarnya saya tidak tahu pasti kota seperti apa Ayutthaya dan apa yang akan saya temukan disana. Setelah sampai di Ayutthaya, saya baru ‘ngeh’ kalau ternyata Ayutthaya dikenal sebagai kota seribu kuil. Alhasil di sepanjang hari yang panas saya hanya berkeliaran dari kuil yang satu ke kuil yang lain ditemani seorang kakek pemandu yang dengan penuh semangat menjelaskan sejarah masing-masing kuil, kehidupan agama Budha di Thailand, dan tidak lupa peraturan-peraturan yang harus ditaati saat mengunjungi setiap kuil seperti dilarang memakai celana atau rok di atas lutut, dilarang memakai baju tanpa lengan, dll. Intinya semua harus berpakaian sopan dan tidak boleh terlalu seksi.


Selama di Ayutthaya, rasanya nuansa Budha begitu terasa di setiap sudut kota. Jelas saja, karena baru sepuluh menit melewati satu kuil, saya sudah menemukan kuil selanjutnya, tidak ketinggalan beserta biksu-biksunya.

Setelah puas menjelajah Ayutthaya ditambah bonus kulit gosong karena terbakar matahari, sesuai rencana saya ingin melihat sendiri kemahsyuran pantai Pattaya.

Sampai di Pattaya sore menjelang malam, saya langsung bersemangat ingin menikmati kehidupan malam di sekitar pantai.

Kesan pertama, Pattaya ternyata tidak lebih indah dari Kuta, Bali. Kesan kedua dan yang paling membekas di tabungan memori saya didapat tidak lama setelah saya berjalan menyusuri sebagian pantai.

Boro-boro bisa menikmati suasana pantai, saya malah ‘eneg’ melihat pemandangan di sekitar saya. Bayangkan, sepanjang jalan saya terus bertemu dengan turis bule tua alias kakek-kakek yang berkencan dengan bocah Thai di bawah umur. Kelihatan sekali mereka baru berumur sekitar 12 tahun, sedangkan teman kencannya si kakek berumur 60-70 tahunan. Kalau cuma melihat beberapa pasang yang seperti itu sih, saya masih tidak terlalu peduli. Nah ini, di seluruh penjuru Pattaya bersliweran kakek-kakek bule bermesraan dengan bocah-bocah Thai.


Bahkan ketika makan di sebuah restoran, tidak jauh dari meja kami, ada seorang kakek bule tua yang untuk mengangkat sendok makan saja tangannya gemetaran, lagi-lagi bersama teman kencannya, seorang gadis kecil. Teman saya pun berkata, “Gila! Ini kasus pedofilia terbanyak yang pernah saya temui.” Mendadak kami serasa terjebak di kota Sodom dan Gomora. Kontras sekali, setelah disuguhi nuansa religius Ayutthaya, tiba-tiba kami disuguhi pemandangan pantai ala Sodom dan Gomora.

Menghabiskan satu malam di Pattaya rasanya sudah lebih dari cukup untuk saya. Keesokan harinya, secepat mungkin saya segera angkat kaki dari Sodom dan Gomora menuju persinggahan lain

No comments:

Post a Comment