Meski saya menyukai Bali, rasanya liburan ke Bali saja belum cukup bagi saya. Kali ini saya ngotot ingin sekalian mengunjungi ketiga Gili di Lombok. Begitu tiba di Bali, saya dan teman langsung berkeliling mencari cara dari Bali ke Gili. Untung saja akhirnya kami menemukan rute yang paling afdol. Afdol versi saya adalah praktis, bisa memuaskan hasrat berpetualang saya, dan pastinya harus cocok dengan isi dompet.
Kali ini rute afdol saya adalah dari Kuta naik shuttle bus menuju Padang Bai, kemudian menyeberang menggunakan kapal ferry ke Lembar, Lombok. Sesampainya di Lembar, lagi-lagi naik shuttle bus ke Pelabuhan Bangsal. Dari Bangsal kembali menyebrang menggunakan perahu ke Gili Trawangan. Keseluruhannya memakan waktu sekitar 10 jam perjalanan. Kedengaran repot memang, tapi perjalanan sepuluh jam ini sama sekali tidak sia-sia.
Keseruan pertama adalah saat menyeberangi Selat Lombok. Dari atas ferry, kita bisa melihat beberapa rombongan lumba-lumba yang hilir mudik, muncul tenggelam, berlompatan di samping ferry. Yang kasihan adalah teman saya yang mengalami mabuk laut selama 4,5 jam perjalanan di ferry. Sementara saya bisa asik berfoto-foto, melihat lumba-lumba, kemudian tidur ,dan juga ngemil sepanjang perjalanan, teman saya hanya duduk ‘bĂȘte’ merasakan kepala pusing, perut mual, dan lidah pahit.
Keseruan sesungguhnya tentu saja ketika kami akhirnya sampai di Gili Trawangan. Belum saja perahu merapat ke dermaga, kami sudah disuguhi pemandangan pantai putih, laut biru, dan keindahan koral yang mengintip dari dasar laut. Ditambah lagi Gili Trawangan benar-benar bebas polusi karena tidak ada kendaraan bermotor yang boleh mengotori udara pulau ini. Meski keriangan Gili Trawangan terus berlanjut dengan pesta sampai dini hari, seluruh penghuni dan pengunjung pulau benar-benar menjaga kelestarian ekosistem di sekitar pulau.
Esok harinya, setelah puas seharian menyelami keindahan didalam laut perairan Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Siang menjelang sore saya memutuskan untuk bersepeda mengelilingi pulau. Menurut penduduk disana, untuk mengelilingi Gili Trawangan hanya dibutuhkan waktu 1,5 jam menggunakan sepeda. Berdasarkan pengalaman, saya sudah mengira kalau penduduk setempat bilang butuh sekian waktu, pasti bagi kita dibutuhkan waktu yang lebih lama bagi kita. Rumus saya sih, kalikan saja dengan angka dua. Jadi kalau mereka bilang 1,5 jam untuk mengelilingi pulau, perkiraan saya perlu waktu 3 jam bersepeda untuk memutari pulau.
Benar saja, di bawah sinar matahari yang masih menyorot, bersepeda keliling pulau tidaklah mudah. Apalagi kami harus bersepeda di atas pasir yang berarti menambah beban kayuh.
Sepertiga perjalanan, teman saya yang sudah kelelahan terjatuh dari sepeda dan sandalnya putus. Terpaksa dia melanjutkan perjalanan dengan kaki telanjang. Sialnya lagi, kami lupa membawa bekal air minum. Jadi kami terpaksa menahan haus diantara kelelahan dan kepanasan, sementara kami sudah jauh dari pemukiman.
Setengah perjalanan, tepat diantara hutan dan laut biru, teman saya mogok melanjutkan perjalanan. Meski saya sudah mengeluarkan jurus bujuk rayu, jurus pembangkit semangat, dan jurus mengungkap realita bahwa kita tidak mungkin menyerah di sini, dia tidak bergeming. Dia merasa sudah tidak sanggup dan lidahnya sudah kembali terasa pahit.
Tapi Tuhan memang maha baik, tiba-tiba ada rombongan kecil bersepeda melintasi kami dari arah berlawanan dan yang paling penting mereka membawa air minum dan mau berbagi sedikit dengan kami untuk mengobati penyakit pahit lidah teman saya. Akhirnya kami bisa meneruskan perjalanan dan menikmati matahari terbenam dengan lidah yang tidak lagi pahit.
Bagi saya, menghabiskan beberapa hari di Gili Trawangan seperti berlibur di khayangan. Kalau ada tempat yang saya ingin kunjungi berkali-kali, itu adalah Gili Trawangan. Bahkan teman saya yang berulang kali mengalami pahit lidah pun setuju dengan saya. Sampai sekarang, setiap kali saya bercerita tentang perjalanan saya berikutnya, “Bagus mana dibanding Gili Trawangan?” tanya si Lidah Pahit.
I don't want to follow ordinary life and stucked in a small world called routine. I have dreams and I want to travel my dreams, enjoy the journey, and amaze with every miracle which happens in it
Sunday, May 2, 2010
Singgah di Sodom dan Gomora
Selama di Ayutthaya, rasanya nuansa Budha begitu terasa di setiap sudut kota. Jelas saja, karena baru sepuluh menit melewati satu kuil, saya sudah menemukan kuil selanjutnya, tidak ketinggalan beserta biksu-biksunya.
Setelah puas menjelajah Ayutthaya ditambah bonus kulit gosong karena terbakar matahari, sesuai rencana saya ingin melihat sendiri kemahsyuran pantai Pattaya.
Sampai di Pattaya sore menjelang malam, saya langsung bersemangat ingin menikmati kehidupan malam di sekitar pantai.
Kesan pertama, Pattaya ternyata tidak lebih indah dari Kuta, Bali. Kesan kedua dan yang paling membekas di tabungan memori saya didapat tidak lama setelah saya berjalan menyusuri sebagian pantai.
Boro-boro bisa menikmati suasana pantai, saya malah ‘eneg’ melihat pemandangan di sekitar saya. Bayangkan, sepanjang jalan saya terus bertemu dengan turis bule tua alias kakek-kakek yang berkencan dengan bocah Thai di bawah umur. Kelihatan sekali mereka baru berumur sekitar 12 tahun, sedangkan teman kencannya si kakek berumur 60-70 tahunan. Kalau cuma melihat beberapa pasang yang seperti itu sih, saya masih tidak terlalu peduli. Nah ini, di seluruh penjuru Pattaya bersliweran kakek-kakek bule bermesraan dengan bocah-bocah Thai.
Bahkan ketika makan di sebuah restoran, tidak jauh dari meja kami, ada seorang kakek bule tua yang untuk mengangkat sendok makan saja tangannya gemetaran, lagi-lagi bersama teman kencannya, seorang gadis kecil. Teman saya pun berkata, “Gila! Ini kasus pedofilia terbanyak yang pernah saya temui.” Mendadak kami serasa terjebak di kota Sodom dan Gomora. Kontras sekali, setelah disuguhi nuansa religius Ayutthaya, tiba-tiba kami disuguhi pemandangan pantai ala Sodom dan Gomora.
Menghabiskan satu malam di Pattaya rasanya sudah lebih dari cukup untuk saya. Keesokan harinya, secepat mungkin saya segera angkat kaki dari Sodom dan Gomora menuju persinggahan lain
Thursday, April 22, 2010
Saya Telah Jatuh Cinta
What country and place would you most like to visit?
Tanpa perlu waktu lama dan dengan penuh semangat saya langsung mengisi Clonmacnoise, Ireland. Sambil membayangkan hamparan padang rumput hijau berhiaskan reruntuhan bebatuan berumur lebih dari seribu tahun, beberapa gereja tua, sebuah kastil dan sebuah pekuburan tua di sisi Sungai Shannon yang membawa saya melayang ke romantisme celtic* ratusan tahun silam.
Belum terlalu lama memang, di mulai mungkin sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya jatuh cinta dengan Irlandia, sebuah negara pulau kecil di sisi barat Inggris yang tidak terlalu sering terdengar namanya. Sebelumnya saya tidak terlalu tahu dimana tepatnya negara bernama Irlandia, sekilas sih pernah mendengar nama Irlandia yang mirip dengan Norwegia, Finlandia dan rasanya ada beberapa negara di Eropa yang namanya berakhiran –ia. Untung saja saya masih ingat kalau Indones-ia bukan terletak di Eropa. Setidaknya itu bisa menjadi bukti saya tidak tertidur waktu pelajaran geografi di masa sekolah dulu. Hehe.
Irlandia seperti negeri dongeng buat saya. Dimulai dari alamnya yang indah dan terkesan magis. Perlu dicatat, jangan membayangkan magis dengan orang berbaju hitam, dupa, kuda lumping makan beling, apalagi kuntilanak gentayangan. Magis alam Irlandia adalah keindahan yang tidak tercemari yang berpadu dengan ketenangan alam dan rumah-rumah batu tua yang seakan-akan menarik saya ke dunia Cinderella dan pangeran berkuda putih.
Bayangkan kita bisa berjalan menelusuri jalan setapak yang diapit ranting-ranting pohon yang meranggas, yang menebar dedaunan emas di sepanjang langkah kaki, kemudian melewati sungai jernih bergemericik sampai kita menemukan sebuah jembatan batu tua menuju desa kecil yang dihuni rumah-rumah tua yang terawat yang terbuat dari bebatuan kokoh, sebuah gereja kecil, dan domba-domba yang sedang bersantai di padang rumput hijau. Ah, saya rela menabung dan berbulan-bulan tidak makan sashimi dan sushi yang notabene adalah makanan kesukaan saya demi si negeri impian, Irlandia.
Semoga musim gugur ini saya bisa terbang ke sana.
catatan: *celtic adalah cabang dari bahasa Indo-Eropa, termasuk Irlandia, Skotlandia, Welsh dan Breton, yang sekarang bertahan di Irlandia, dataran tinggi Skotlandia, Wales, dan Inggris.
Tanpa perlu waktu lama dan dengan penuh semangat saya langsung mengisi Clonmacnoise, Ireland. Sambil membayangkan hamparan padang rumput hijau berhiaskan reruntuhan bebatuan berumur lebih dari seribu tahun, beberapa gereja tua, sebuah kastil dan sebuah pekuburan tua di sisi Sungai Shannon yang membawa saya melayang ke romantisme celtic* ratusan tahun silam.
Belum terlalu lama memang, di mulai mungkin sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya jatuh cinta dengan Irlandia, sebuah negara pulau kecil di sisi barat Inggris yang tidak terlalu sering terdengar namanya. Sebelumnya saya tidak terlalu tahu dimana tepatnya negara bernama Irlandia, sekilas sih pernah mendengar nama Irlandia yang mirip dengan Norwegia, Finlandia dan rasanya ada beberapa negara di Eropa yang namanya berakhiran –ia. Untung saja saya masih ingat kalau Indones-ia bukan terletak di Eropa. Setidaknya itu bisa menjadi bukti saya tidak tertidur waktu pelajaran geografi di masa sekolah dulu. Hehe.
Irlandia seperti negeri dongeng buat saya. Dimulai dari alamnya yang indah dan terkesan magis. Perlu dicatat, jangan membayangkan magis dengan orang berbaju hitam, dupa, kuda lumping makan beling, apalagi kuntilanak gentayangan. Magis alam Irlandia adalah keindahan yang tidak tercemari yang berpadu dengan ketenangan alam dan rumah-rumah batu tua yang seakan-akan menarik saya ke dunia Cinderella dan pangeran berkuda putih.
Bayangkan kita bisa berjalan menelusuri jalan setapak yang diapit ranting-ranting pohon yang meranggas, yang menebar dedaunan emas di sepanjang langkah kaki, kemudian melewati sungai jernih bergemericik sampai kita menemukan sebuah jembatan batu tua menuju desa kecil yang dihuni rumah-rumah tua yang terawat yang terbuat dari bebatuan kokoh, sebuah gereja kecil, dan domba-domba yang sedang bersantai di padang rumput hijau. Ah, saya rela menabung dan berbulan-bulan tidak makan sashimi dan sushi yang notabene adalah makanan kesukaan saya demi si negeri impian, Irlandia.
Semoga musim gugur ini saya bisa terbang ke sana.
catatan: *celtic adalah cabang dari bahasa Indo-Eropa, termasuk Irlandia, Skotlandia, Welsh dan Breton, yang sekarang bertahan di Irlandia, dataran tinggi Skotlandia, Wales, dan Inggris.
Subscribe to:
Posts (Atom)